Informasi Penyakit Diare

Penyakit DiareDiare adalah peningkatan dalam frekuensi gerakan-gerakan usus atau pengurangan dalam bentuk tinja (kelonggaran yang lebih besar dari tinja). Meskipun perubahan-perubahan dalam frekuensi gerakan-gerakan usus dan kelonggara-kelonggaran tinja dapat bervariasi dengan bebas dari satu sama lainnya, perubahan-perubahan seringkali terjadi pada kedua-duanya.

Sebenarnya diare bukanlah nama dari suatu penyakit, namun hanya menunjukkan dari suatu gejala. Diare bisa disebabkan oleh banyak hal namun biasanya disebabkan oleh infeksi.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia atau India, diare termasuk penyebab utama dari kematian baik yang terjadi pada anak-anak atau orang dewasa.

Diare juga merupakan penyebab utama dari malnutrisi atau gizi buruk. Hal ini terjadi karena biasanya anak-anak cenderung lebih sedikit makan dalam suatu kasus diare.

Tubuh membutuhkan nutrisi tambahan pada saat menderita infeksi untuk  melawan berbagai kuman-kuman yang bisa menyebabkan penyakit.

Ada kalanya ada kondisi yang mirip dengan diare tetapi tidak bisa disebut diare diantaranya :

  • Bayi yang setelah diberi ASI mengeluarkan tinja mirip adonan yang lembek.
  • Bayi mengeluarkan tinja selama atau segera setelah diberi ASI karena reflex gastro-kolik, yaitu mengkonsumsi makanan tertentu yang bisa mengakibatkan serangkaian gerakan dari lambung ke usus besar.
  • Untuk bayi yang kenaikan berat badannya normal mengeluarkan tinja yang semi keras sebanyak 3 hingga 6 kali.

Penyebab Diare

Diare bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya suatu kebiasaan tertentu yang bis memicu timbulnya diare.

Berikut ini adalah beberapa penyebab diare, diantaranya :

  • Infeksi oleh virus, bakteri atau parasit.
  • Alergi terhadap jenis obat atau makanan tertentu.
  • Infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang menyertai penyakit lain seperti Infeksi telinga, Campak, Malaria, Infeksi tenggorokan, dan sebagainya.

Menurut meta analysis di seluruh dunia, dalam satu tahun setidaknya setiap anak mengalami diare dalam satu tahun sebanyak satu kali.

Satu diantara lima anak dengan kasus diare terkena rotarivirus yang bisa menyebabkan diare. Hal ini tidak berbeda jauh dengan Indonesia dimana anak-anak yang terkena diare biasanya disebabkan oleh faktor ini.

Parasit dan bakteri juga bisa menyebabkan diare di mana berbagai organisme ini bisa mengganggu proses penyerapan makanan pada usus halus.

Makanan yang tidak terserap oleh usus dan tidak bisa dicerna akan menarik air dari dinding usus. Hal ini membuat proses transit di usus menjadi jauh lebih singkat sehingga usus tidak sempat menyerap air dan hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare.

Selain mengeluarkan air secara berlebihan, usus besar juga mengeluarkan elektrolit. Diare yang menyebabkan kehilangan elektrolit dan cairan bisa menimbulkan dehidrasi di mana hal ini bisa menyebabkan jiwa penderita diare terancam.

Selain disebabkan oleh rotavirus, diare juga bisa disebabkan oleh alergi, kurang gizi, tidak tahan terhadap laktosa dan lain-lain.

Tubuh bayi dan balita biasanya tidak tahan terhadap laktosa karena hanya sedikit atau tidak memiliki enzim laktosa yang berfungsi untuk mencerna laktosa yang terkandung susu sapi.

Namun untuk bayi yang sedang menyusu ASI tidak akan mengalami intoleransi laktosa karena ASI mengandung enzim laktosa.

Selain itu kebersihan ASI terjamin dengan baik karena langsung diminum dan tidak menggunakan wadah seperti halnya minum dengan botol susu atau dot.

Jenis obat-obatan terutama antibiotik bisa menyebabkan berbagai efek samping salah satunya adalah diare. Selain itu bahan pemanis buatan seperti manitol dan sorbitol dalam produk bebas gula seperti permen karet juga bisa menyebabkan diare.

Diare dapat merupakan efek sampingan banyak obat terutama antibiotik. Selain itu, bahan-bahan pemanis buatan sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk-produk bebas gula lainnya menimbulkan diare.

Hal ini terjadi pada orang dewasa atau anak-anak yang memiliki kadar vitamin yang normal, kadar dan fungsi hormon yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari tulang yang rapuh.

Balita dan bayi yang masih di susui dengan ASI eksklusif biasanya jarang mengalami diare karena tidak terkontaminasi dari luar. Akan tetapi virus dan bakteri bisa mengontaminasi makanan pendamping ASI dan susu formula.