Efek Samping Akibat Penghambatan Sel Tumor

https://www.ilmupenyakit.comTerapi intermittens (selang-seling) dari kombinasi beberapa obat dengan dosis tinggi kerap kali memberikan hasil yang lebih baik dari pada terapi terus menerus dengan hanya satu obat. Lagi pula bersifat kurang imunosupresif dan toksis.

Antara dua kur diadakan istrahat 2-3 minggu guna memungkinkan penyembuhan sel normal dan system imun yang telah tertekan. Sebaliknya, selama masa itu kebanyakan sel tumor yang membelah agak lambat, belum menjadi normal kembali.

Efek samping umum berupa gejala-gejala akibat penghambatan sel tumor yang tumbuh pesat, seperti kebanyakan jenis sel tumor, yaitu:

1. Myelosupresi, yakni penekanan sumsum tulang dengan efek gangguan darah (leucopenia, agranulocytosis, anemia, thrombocytopenia dan lain-lain).

Penekanan pembentukan sel darah merah, sel darah putih dan pelat darah timbul sebagai efek samping dari kebanyakan sitostatika dan tergantung dari dosisnya (dose-related).

Transfuse darah atau pelat darah dapat dilakukan untuk mengatasi anemia dan trombositopenia, walaupun transfuse lekosit belum berhasil dengan baik.

2. Mucositis, perusakan mukosa mulut (luka-luka, stomatitis) dan lambung usus (mual, muntah, diare).

Mual dan muntah terutama timbul sebagai efek samping dari sitostatika platina dan doksorubisin.

Guna melawan efek-efek ini dapat digunakan antiemetika seperti metoklopramida, domperidon atau 5HT3 antagonis-serotonin (ondansetron, granisetron), sering kali dikombinasi dengan deksametason.