Diagnose dan Residivitas Plasmodium

https://www.ilmupenyakit.comDiagnose

Plasmodium dapat dideteksi dan diidentifikasi secara mikroskopis dalam preparat darah yang diwarnai menurut Giemsa atau Wright.

Ciri lainnya adalah adanya monosit yang berisi pigmen. Petunjuk penting, terutama untuk malaria kronis, berupa timbulnya antibody spesifik. Kini sedang dikembangkan tes ELISA untuk mendeteksi antigen dan metode untuk menemukan DNA parasit.

Pasien baru dapat dinyatakan bebas malaria bila 2-3 preparat darah yang diambil tiap hari selama 3-4 hari memberikan hasil negative pada tes pewarnaan.

Residivitas

Seorang penderita yang telah diobati dan tampaknya sembuh total bisa kambuh kembali penyakitnya beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudian.

Penyebabnya ialah bentuk EE sekunder dari P.vivax dan P.ovale yang masih berada di dalam hati, limpa atau organ lain tanpa menimbulkan gejala nyata, juga bila semua bentuk EE sudah dimusnahkan.

Hipnozoit ini (parasit tidur) khusus dari P.vivax dan P.ovale, pada keadaan tertentu setelah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, misalnya daya tangkis tubuh menurun atau keletihan fisik, menjadi aktif lagi. Mereka memperbanyak diri, membelah, kemudian memasuki eritrosit dan demikian menimbulkan kambuhnya penyakit.

Bentuk EE sekunder hanya terdapat pada malaria tertiana dan kwartana, tidak pada malaria tropika, sehingga pembasmian bentuk EE-nya berarti penyembuhan tuntas. Sebaliknya, semua sporozoit P. falciparum dalam sel hati berkembang sekaligus menjadi merozoit, sedangkan pada plasmodia lainnya sebagian dari sporozoit tertinggal dalam sel anak arena hati. Kebanyakan obat malaria tidak dapat mencapai sporozoit tersebut yang menjadi sebab timbulnya residif.