Patofisiologi Penyakit Polimiositis

https://www.ilmupenyakit.comPatofisiologi Polimiositis

Patogenesis polimiositis bersifat multifaktor. Predisposisi genetik merupakan unsur yang palin besar kemungkinannya. Penyakit polimiositis yang timbul karena pemakaian obat jarang terjadi tetapi pernah dilaporkan.

Polimiositis diklasifikasikan sebagai gangguan autoimun karena terdapat autoantibodi; namun, antibodi ini tidak menimbulkan kerusakan pada sel-sel otot sehingga hanya menunjukkan peranannya yang tidak langsung dalam menyebabkan kerusakan jaringan.

Manifestasi Klinis

Awitan polimiositis bervariasi mulai dari awitan yang mendadak dengan progresivitas yang cepat hingga awitan yang sangat lambat dan tidak jelas (insidious).

Kelemahan otot proksimal secara tipikal merupakan gejala pertama. Kelemahan otot biasanya simetris dan difus. Dermatomiositis, yaitu suatu keadaan yang ada kaitannya, paling sering teridentifikasi dengan lesi yang licin dan eritematous atau lesi bersisik yang dijumpai pada daerah permukaan sendi.

Evaluasi Diagnostok

Seperti halnya dengan penyakit jaringan ikat yang difus lainnya, tidak ada satu tes pun yang dapat memastikan diagnosis polimiositis. Anamnesis riwayat sakt yang lengkap dan pemeriksaan fisik akan membantu menyingkirkan kelainan lain yang berhubungan dengan oto.

Elektromiografi (EMG) dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit degeneratif otot. Biopsi otot dapat mengungkapakn infiltrat inflamatori dalam jaringan. Pemeriksaan serum menunjukkan peningkatan aktivitas enzim-enzim otot.

Penatalaksanaan

Penanganan polimiositis meliputi terapi kortikosteroid dengan dosis yang tinggi pada terapi awal dan kemudian dikurangi secara berangsur-angsur selama beberapa bulan setelah aktivitas enzim otot berkurang.

Pasien yang tidak responsif terhadap kortikosteroid memerlukan penambahan preparat imunosupresi. Bagi pasein-pasien yang tidak responsif terhadap kortikosteroid dan imunosupresi (sampai 10% pasien), tindakan plasmaferesi dapat dicoba.

Ruam kulit dapat timbul sebagai reaksi terhadap pemberian hidroksiklorokuin. Fisioterapi dimulai secara perlahan-perlahan dengan latihan gerak untuk mempertahankan mobilitas sendi dan kemudian diikuti oleh latihan penguatan otot yang dilaksanakan secara bertahap.

Pertimbangan keperawatan. Asuhan keperawatan bagi penderita polimiositis harus dilaksanakan berdasarkan rencana asuhan dasar bagi pasien penyakit reumatik.

Masalah yang paling sering ditemukan pada penderita polimiositis mencakup gangguan pada mobilitas fisik; keletihan; kurang kemampuan dalam melaksanakan perawatan-mandiri; dan tidak memadainya pengetahuan mengenai teknik-teknik penatalaksanaan-mandiri.