Penggunaan dan Penyalahgunaan Zat Pencahar

https://www.ilmupenyakit.comPenggunaan zat pencahar.

Banyak pencahar telah dipasarkan, tetapi kebanyakan dari obat-obat ini memiliki efek samping yang kurang baik bila sering digunakan untuk jangka waktu yang lama.

Pertama adalah kemungkinan menimbulkan kebiasaan sehingga obat harus diminum terus menerus dengan dosis selalu ditingkatkan untuk menghasilkan efek yang sama.

Akhirnya timbul situasi yang lazim disebut “usus malas” akibat rangsangan berlebihan dan perusakan saraf-saraf dinding usus. Terkenal adalah zat pencahar dratis seperti cascara, senna, rheum dan aloe, yang dahulu kadang-kadang masih digunakan dalam beberapa obat paten, misalnya Sankaijo.

Keberatan lain adalah, bahwa keseimbangan mineral (terutama natrium dan kalium) dapat dikacaukan, bagitupula susunan bakteri usus (flora).

Perubahan-perubahan ini dapat menimbulkan antara lain kelemahan otot, kejang perut atau diare. Bila sembelit berlangsung untuk beberapa waktu, tinja kadang-kadang sudah mengeras dan sukar dikeluarkan karena sudah dipadatkan akibat kehilangan terlalu banyak air. Dalam hal ini tinja sudah merupakan suatu sumbatan keras di dalam proses usus.

Penyalahgunaan obat pencahar juga sering kali dilakukan dalam sediaan-sediaan untuk melangsingka tubuh. Selain efek-efek buruk tersebut di atas, obat demikian membahayakan kesehatan karena banyak bahan-bahan pembangunan tubuh seperti vitamin dan elemen spura tidak diserap sehingga dapat menimbulkan defisiensi.

Perhatian!

Obat pencahar tidak boleh digunakan secara sembarangan untuk mengatasi gangguan buang air besar yang ringan.

Laksansia tidak boleh digunakan bila pasien sedang menderita nyeri perut karena gejala ini dapat menunjukkan pada peradangan usus halus (ileus) atau radang usus buntu (appendicitis).

Wanita hamil harus berhati-hati dengan obat pencahar karena dapat mengakibatkan bahaya keguguran (minyak kastor).