Infeksi Family Virus Herpes Pada Manusia

Family virus herpes

Virus bergabung bersama sebagai hepersviridae yang dikelompokkan berdasarkan sifat biokimia tetapi menunjukkan kemiripan substansi dalam aktivitas pejamu yang terinfeksi.

Enam dari virus family ini menyebabkan infeksi pada manusia: virus herpes simpleks, tipe 1; herpes simpleks, tipe 2; sitomegalovirus; virus varisella-zoster; virus Epstein Barr; dan virus B-limfotropik. Semuanya menimbulkan infeksi laten yang lama dan dapat aktif kembali setelah infeksi awal dan laten.

Herpes simpleks

Infeksi herpes simpleks adalah infeksi virus yang paling umum. Kondisi yang muncul karena infeksi ini sangat bervariasi meliputi infeksi tanpa gejala, pilek, dan herpes pada genital.

Herpes simpleks mengikuti pola yang biasa pada family virus herpes; infeksi primer; inkubasi (masa laten); dan reaktivasi (infeksi sekunder).

Kontak orang ke orang adalah rute penularan untuk virus ini, biasanya dari membrane mukosa seseorang yang terinfeksi pada membrane mukosa orang lain.

Herpes simpleks dibagi dalam duo serogrup: herpes simpleks 1 (HSV-1) dan herpes simpleks 2 (HSV-2). Umumnya HSV-1 menyebabkan infeksi oral, ocular, atau wajah; HSV-2 menyebabkan infeksi genital. Bagaimana pun tipe lain dari infeksi dapat menyebabkan penyakit pada bagian tubuh lain.

Infeksi herpes simpleks dapat ditularkan melalui petugas perawatan kesehatan pada saat bekerja. Herpes whitlow adalah manifestasi kutaneus dari HSV yang paling sering terlihat pada perawat, dokter, dan dokter gigi yang tangannya telah kontak dengan sekresi faring pasien.

Whitlow, seperti bentuk lain infeksi HSV, menimbulkan nyeri dan dapat kambuh kembali. Petugas perawatan kesehatan dengan whitlow herpetic pada tangan mereka tidak diizinkan berpartisipasi dalam perawatan pasien saat lesi muncul.

Dengan meningkatnya penggunaan sarung tangan sebagai kewaspadaan umum, menurut teori kejadian herpes whitlow mungkin menurun.

Penting bagi petugas kesehatan  untuk secara rutin menggunakan sarung tangan saat kontak dengan sekresi faring dari pasien karena perpindahan virus dapat terjadi tanpa lesi yang dapat dilihat.