Pingsan Bukan Penyebab Jantung yang Lemah

Pingsan atau sinkop adalah suatu kondisi kehilangan kesadaran yang mendadak dan tiba-tiba. pingsan biasanya hanya bersifat sementara dan berlangsung hanya beberapa detik atau menit saja. Keadaan hal ini disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak.

Gejala pertama yang dirasakan oleh seseorang sebelum pingsan adalah rasa pusing, berkurangnya penglihatan, tinitus, dan rasa panas. Selanjutnya, penglihatan orang tersebut akan menjadi gelap dan ia akan jatuh atau terkulai. Jika orang tersebut tidak dapat berganti posisi menjadi hampir horizontal, ia dapat mati karena efek trauma suspensi.

Kita biasanya melihat atau mendengar atau bahkan mengalami yang namanya pingsan. Kejadian ini sering menjumpai orang di sekeliling entah itu keluarga, teman, kerabat, atau bahkan Anda sendiri mudah sekali pingsan. Beraktifitas sedikit saja, atau terlalu kecapaian kemudian jatuh pingsan.

Lebih parahnya lagi, ada klaim bahwa orang yang mudah jatuh pingsan sangat berkaitan dengan lemah jantung. Padahal lemah tidaknya jantung seseorang tidak hanya disebabkan oleh faktor jantung kita kurang beres, melainkan bisa juga disebabkan oleh faktor dari luar.

Intinya, seringnya seseorang terjatuh pingsan tidak bisa langsung diidentikkan dengan lemah jantung. Menurut para ahli, sebagian besar orang yang mengalami pingsan yang disebabkan bukan karena lemahnya jantung orang tersebut, melainkan disebabkan oleh hipersensitifitas vagus.

Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan refleks saraf hormon ketika bereaksi dalam posisi berdiri yang berkepanjangan. Vagus sendiri merupakan saraf otak yang sangat berpengaruh terhadap frekuensi detak jantung manusia.

Pada orang yang sensitif bahkan hipersensitif, keadaan di mana kekuatan konstraksi yang semakin bertambah justru akan mengaktifkan reseptor mekanik pada dinding bilik jantung kiri sehingga timbul apa yang disebut dengan reflex Bezold-Jarisch.

Apa yang terjadi kemudian? Frekuensi detak jantung akan menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan kemudian terjadi tekanan darah rendah sehingga aliran darah ke susunan saraf menjadi terganggu. Disinilah sinkop yang merupakan salah satu pencerminan hipersensitivitas vagus terjadi.

Hindari Memakai Baju yang Ketat

Sebagaimana disebutkan di atas, sering jatuh pingsannya seseorang bukan semata disebabkan oleh lemahnya jantung, namun bisa juga terjadi karena faktor luar. Dalam konteks hipersensitiftas vagus bisa juga terjadi berupa sinkop sinus karotis, yakni jatuh pingsan yang terjadi saat menoleh mendadak.

Mengapa hal tesebut bisa terjadi? Kondisi menoleh mendadak bisa jadi merupakan gangguan ketika Anda menggunakan kerah yang ketat dan terlalu tinggi. Pemakaian kerah yang ketat akan menyebabkan penekanan pada sinus karotis yang berada di leher agak depan. Lebih parahnya lagi, kondisi demikian bisa menyebabkan detak jantung menjadi lambat dan menimbulkan sinkop.

Jika dilakukan tes pemeriksaan yang disebut elektro-fisiologi pada penderita, maka umumya terlihat fungsi listrik jantung bekerja pada batas normal. Apabila ada manipulasi ringan berupa penekanan leher di daerah sinus karotis tadi akan tampak berupa garis datar pada layar monitor.

Untuk mencegah melambatnya detak jantung dan sinkop maka usahakan supaya Anda tidak menggunakan pakaian yang memiliki kerah ketat dan terlalu tinggi. Selain itu, usahakan juga untuk tidak memijat bagian leher yang bisa menyebabkan tekanan pada sinus karotis.

Selain pencerminan hipersensitifitas vagus di atas, bisa juga terjadi apa yang dinamakan dengan paroxysmal sinus arrest. Dalam konteks ini, bisa saja terjadi sumber listrik utama jantung mengalami penghentian dalam waktu antara 6-23 detik sekalipun tanpa adanya faktor penyebab yang melatarbelakanginya.

Paroxysmal sinus arrest bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja, entah sedang berkegiatan atau sedang beristirahat, siang ataupun malam. Dalam hal ini ketika diadakan pemeriksaan elektrofisiologis maka keadaan di layar monitor akan tampak normal.

Pada umumnya, pengobatan akan diarahkan pada penggunaan alat pacu jantung secara permanen yang ditanamkan di bawah kulit dada penderita.

Untuk mencegah sinkop yang disebabkan bukan oleh kelainan jantung, maka bisa di siasati dengan banyak melakukan olahraga secara regular seperti bersepeda, jogging, berenang, dan lainnya.

Namun demikian, jika sinkop disebabkan oleh adanya kelainan jantung yang diderita seseorang, maka dianjurkan untuk sesegera mungkin berkonsultasi ke dokter jantung untuk mendapatkan tindakan yang tepat dan menghindari resiko yang lebih parah.

Patut Anda ingat bahwa penyakit yang di deteksi lebih awal akan relatif lebih mudah untuk disembuhkan dibandingkan dengan penyakit yang sudah bersemayam lama. Jaga baik-baik kondisi tubuh Anda, luar ataupun dalam.