Mengetahui Penyakit Jantung Dari Ukuran Pinggang

Pada umumnya, orang-orang hanya mengetahui atau beranggapan bahwa merokok dan kegemukan (obesitas) meningkatkan tingginya resiko terserang penyakit jantung. Padahal, ada cara yang lebih akurat untuk memprediksi apakah seseorang beresiko terkena serangan jantung atau tidak. Apakah itu?

Ukuran pinggang seseorang ternyata dapat dijadikan sebagai patokan untuk mengetahui atau memprediksi kesehatan jantung dibandingkan dengan berat badan.

Dalam beberapa penelitian, telah ditemukan bahwa indeks massa tubuh (BMI) berhubungan erat dengan resiko kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya.

Namun, yang cukup mengejutkan adalah adanya analisis baru yang dimuat dalam Journal of America College of Cardiology yang menyatakan bahwa ukuran pinggang merupakan cara yang jauh lebih akurat untuk memprediksi kemungkinan seseorang meninggal karena serangan jantung atau penyakit lainnya.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa seseorang yang memiliki rasio lingkar pinggang-panggul lebih dari 35 inchi (89 cm) untuk wanita atau 40 inchi (101,6 cm) untuk laki-laki, memiliki kemungkinan meninggal sampai 70% dibandingkan dengan orang yang ukuran pinggangnya lebih kecil.

Direktur penelitian di Quebec Heart and Lung Insttitute Laval university, Jean-Pierre Depres, PhD menyebutkan bahwa studi baru tersebut memberikan bukti yang lebih banyak tentang keurangan BMI dalam melakukan penilaian resiko serangan jantung.

Namun demikian, metode penilaian berdasarkan indeks massa tubuh seseorang dengan ukuran pinggang akan memberikan hasil prediksi yang lebih akurat dan lebih komprehensif lagi hasilnya.

Serangan Jantung Usai Mandi dengan Air Panas

Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa orang yang terkena serangan jantung lebih banyak mengalaminya setelah mandi dengan air hangat terutama ketika udara dingin tengah merasuk dibandingkan dengan setelah melakukan aktifitas berat seperti bekerja dan lainnya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Chika Nishiyama dari Kyoto Prefectural University dengan meneliti sekitar 11.000 kasus serangan jantung di Osaka, Jepang, ditemukan bahwa orang yang mengalami serangan jantung setelah mandi air hangat pada musim dingin tiba, angkanya 10 kali lebih besar dibandingkan ketika musim hangat.

Penelitian tersebut seolah mengkonfirmasikan bahwa orang yang ingin menghangatkan tubuhnya ketika musim dingin tiba dengan mandi air hangat memiliki resiko terkena serangan jantung yang jauh lebih tinggi dan karenanya harus dihindari.

Selain itu, serangan jantung juga terjadi ketika orang-orang sedang terlelap tidur.  Bahkan angkanya lebih besar dibandingkan dengan orang yang mandi air hangat disaat musim dingin, yakni sebesar 22%. Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan hasil penelitian yang menegaskan terjadinya resiko serangan jantung dengan kegiatan tertentu.

  • Tidur sebanyak 22%.
  • Mandi air hangat sebanyak 9%.
  • Bekerja sebanyak 3%.
  • Olahraga 0,5%.
  • Lain-lain 65,5%.

Dilihat dari perbandingan antara mandi air hangat dan berolahraga, sebanyak 54 orang mengalami serangan jantung setelah melakukan mandi dengan air hangat. Sedangkan hanya 10 dari 10 juta orang yang mengalami serangan jantung setelah berolahraga.

Sang peneliti, Nishiyama menduga bahwa ketika orang mandi air hangat di saat musim dingin dapat menyebabkan tekanan darah menjadi turun drastis. Hal tersebut ternyata berdampak pada berkurangnya fungsi jantung secara mendadak. Dan pada beberapa kasus, langsung menyebabkan serangan jantung.

Jangan Terlalu Sering Bekerja Lembur

Anda yang hobi bekerja bahkan sampai lupa segalanya karena sedang mengejar target baik yang berhubungan dengan target finansial maupun kepuasan batiniah sebaiknya mulai mengurangi aktifitas kerja yang berlebihan.

Bagaimanapun, hal yang dilakukan secara berlebihan memiliki efek yang kurang baik. Begitu juga dalam konteks bekerja dimana orang yang terlalu bersemangat bekerja bahkan sampai lembur setiap hari memicu resiko terkena serangan jantung yang cukup tinggi.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan kepada para pegawai negeri sipil di London, Inggris, terungkap bahwa pekerja yang bekerja dengan waktu lebih dari 11 jam dalam seharinya memiliki kerentanan terkena serangan jantung yang lebih tinggi.

Resikonya bisa mencapai 67% dibandingkan karyawan yang bekerja dengan jam kerja normal yakni 7-8 jam seharinya. Penelitian yang dilakukan kepada sekitar 7.000 orang dan dilakukan selama 11 tahun tersebut menemukan bahwa sekitar 192 orang mengalami serangan jantung karena terlalu berlebihan dalam bekerjanya.

Penelitian tersebut memang masih memerlukan penelitian lanjutan, namun demikian, hasil penelitian di atas patut dijadikan sebagai warning bahwa terlalu berlebihan dalam bekerja bisa meningkatkan resiko serangan jantung.

Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Melakukan hal-hal yang tidak diperkenan seperti bekerja berlebihan, mandi air hangat di kala musim dingin, dan lainnya sama saja dengan membunuh diri Anda secara perlahan. Lebih bijak jika kondisi kesehatan tubuh Anda dijaga dengan sebaik-baiknya sejak dini.