Cara Mengatasi Hypoxia

Sebelumnya kita ketahui apa itu hypoxia? Hypoxia merupakan masalah yang dapat merusak tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya. Hypoxia bisa saja merupakan lanjutan dari hypoxemia yaitu kurangnya pasokan oksigen pada pembuluh darah bersih (pembuluh arteri).

Sebaiknya diketahui jika hypoxia merupakan salah satu keadaan yang dapat terbilang mematikan, sebab otak, hati begitu juga dengan organ lainnya dapat rusak dengan cara yang lebih cepat saat tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Dalam masalah ini bayi yang prematur bisa saja mengalaminya sebab paru-parunya belum berkembang dengan sempurna.

Banyak hal yang dapat membuat pasokan oksigen menjadi tidak normal seperti halnya ketika Anda berada di pegunungan, dalam penerbangan, berada di dalam air, atau di area kebakaran.

Gejala yang dapat ditimbulkan hypoxia

Gejala hypoxia bisa mendadak muncul, cepat memburuk (akut), atau bersifat kronis. Berikut ini beberapa gejala hypoxia yang umumnya terjadi:

  • Napas pendek.
  • Kebingungan.
  • Berkeringat.
  • Kulit berubah warna, menjadi biru atau merah keunguan.
  • Sesak napas.
  • Halusinasi.
  • Batuk-batuk.
  • Kelelahan.
  • Detak jantung cepat.
  • Napas berbunyi (mengi).

Selain dari yang kami sebutkan diatas, hypoxia juga dapat menimbulkan komplikasi jika terjadi kesalahan dalam penanganannya. Pemberian oksigen berlebihan justru bisa meracuni jaringan tubuh atau biasa disebut hypoxia. Hal ini bisa menyebabkan:

  • Katarak.
  • Vertigo.
  • Kejang-kejang.
  • Perubahan perilaku.
  • Pneumonia.

Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Sekalipun gejala-gejala lanjutan sudah hilang, Anda tetap dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Penyebab Hypoxia

Seringkali, munculnya hypoxia disebabkan oleh hypoxemia. Namun, bisa juga terjadi sebaliknya. Selain hypoxemia, beberapa hal yang bisa menyebabkan hypoxia adalah:

  • Keracunan gas atau zat kimia.
  • Rendahnya kadar oksigen.
  • Gangguan jantung berupa detak jantung melambat cukup parah (severe bradycardia) dan kontraksi bilik jantung (ventrikel) terlalu cepat dan tidak teratur (ventricular fibrillation).
  • Gangguan paru-paru, contohnya penyakit paru obstruktif kronik, bronkitis, emfisema, kanker paru-paru, pneumonia, asma, edema pulmonari, dan sleep apnea.
  • Berhenti atau berkurangnya aliran darah menuju organ tertentu.
  • Obat-obatan apa pun yang mengganggu atau menghentikan napas.
  • Anemia atau kondisi yang merusak sel darah merah.

Diagnosis dan Pengobatan Hypoxia

Ada tiga cara yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis hypoxia pada pasien, yaitu:

  • Analisa gas darah. Sampel darah dari pembuluh arteri diperiksa untuk mengetahui kadar oksigen yang terikat di sel darah merah.
  • Pemasangan monitor oksigen, pada jari atau telinga penderita untuk mendeteksi kadar oksigen dalam darah.
  • Tes fungsi paru. Tes ini dilakukan untuk mengetahui penyebab berkurangnya oksigen dalam tubuh.

Jika merasa terkena hypoxia, Anda harus segera ke rumah sakit agar kadar oksigen dalam tubuh bisa dimonitor dan mendapatkan penanganan secepatnya. Ada beberapa pengobatan yang akan dilakukan dokter bagi para penderita hipoksia, yaitu:

  • Memasok oksigen ke dalam tubuh. Tubuh penderita hypoxia akan dipasok oksigen menggunakan selang atau masker oksigen. Semakin cepat kadar oksigen dalam tubuhnya kembali normal, semakin kecil risiko kerusakan organ tubuh.
  • Ruang hiperbarik. Penderita hypoxia yang disebabkan oleh keracunan karbonmonoksida biasanya akan dimasukkan ke dalam ruang hiperbarik, yang berfungsi meningkatkan okigen dalam darah.
  • Intubasi. Membuat saluran udara mekanis yang berfungsi untuk menyalurkan oksigen dengan kadar di atas normal.

Pencegahan hypoxia dapat dilakukan dengan cara menghindari kondisi yang menurunkan kadar oksigen, atau secepatnya memberikan pasokan oksigen sebelum hypoxia muncul. Hypoxia yang disebabkan oleh asma bisa dihindari dengan cara mengikuti terapi asma yang sudah diresepkan oleh dokter. Terapi tersebut juga bisa membantu pasien mengendalikan asma.